Saturday, 14 May 2016

# Life # Random Thoughts

Hey The Old Me! Please Come Back!

Hello. This is me in 2016. Well, just realize that something weird happen in my self. Belakangan ini rasanya jiwa saya auranya negatif. Dan saya merasa resah dengan perubahan itu. Saya merasa menjadi bukan diri saya sendiri.

Mengapa? Ada apa?

Entahlah. Saya juga tidak mengerti. Apa mungkin kurang piknik? Kurang mendengarkan musik? Kurang besikap tidak peduli akan hal yang tidak penting? Atau saya yang hanya terlalu bersikap berlebihan dengan semua hal yang terjadi?

Saya bersyukur ada seseorang nun jauh disana yang selalu mengingatkan saya, memberi nasehat, menenangkan saya. Walau pada akhirnya saya tetap mau menang sendiri dan dia mengalah, tetapi saya tahu bahwa dia benar. Yang membuat saya mengamuk itu lebih ke saya tahu sebenarnya kondisi saya, jadi yang saya butuhkan itu hanya bercerita untuk melepaskan semua kegelisahan dan keresahan, saya butuh ditenangkan, yang sebenarnya dia juga lakukan, tetapi tetap saja sayanya masih dalam kondisi panas. Saya sungguh berterima kasih atas kesabarannya menghadapi saya di saat seperti ini. Ada kalanya, Vinta yang kamu kenal selama ini, tidak menjadi Vinta yang kamu kenal selama ini. Seperti saat ini. Mungkin kamu akan menemukan Vinta yang tidak dewasa, tidak cool, tidak keren, dan tidak setangguh biasanya. Cengeng. Karena hati ini sudah terlanjur digerogoti oleh hal-hal negatif, mulai dari pesimis, sarkastik, hingga sinis.

Saya menyadari hal itu. Ketika seperti beberapa waktu lalu saya menulis status bernada negatif, beberapa orang mengingatkan saya. Tetapi masalahnya yang diserang itu keluarga saya dan sekarang itu juga posisi kami sekeluarga sudah sangat jauh sekali dari si sumber masalah dan saya mengharapkan sekali gangguan dari sumber itu seharusnya tidak mengganggu kami lagi sekeluarga. Tapi nyatanya saya salah. Dan hal itu yang membuat saya sudah tidak tahan lagi, dan mungkin melanggar etika yang seharusnya kepada orang yang lebih tua. Tapi sungguh beliau sendiri tidak menunjukan cara berperilaku orang yang lebih tua, orang yang harusnya dituakan. Di media sosial tersebut, melalui private messanger, beberapa orang tersebut mengingatkan bahwa nanti kecantikan hati saya hilang atau seharusnya saya tidak berlaku hal yang sama, seharusnya saya bisa lebih sabar lagi.

Sejujurnya saya sudah jenuh untuk bersabar dan ada kalanya hati ini memang tidak cantik. Tetapi walau saya bilang jenuh, saya ya tetap melakukan ‘sabar’ itu sendiri, karena memang hanya itu yang bisa saya lakukan setelah berusaha dan berdoa.

Saya takut jika saya akhirnya berubah menjadi orang lain. Saya dulu orangnya ambisius positif sehingga apapun yang saya lakukan semuanya seperti dikabulkan dan saya hanya tinggal memilih yang mana yang saya ingin lalui. Hingga akhir Juli tahun lalu, 2015, semua yang sudah saya lakukan dan tinggal menunggu hasilnya saja, dimana hasilnya juga sudah diketahui, saya niatkan untuk balas dendam mungkin, atau lebih ke penunjukan diri bahwa apa yang mereka bilang itu salah. Mungkin disitu Allah menunjukkan bahwa sepertinya anak ini pada akhirnya malah merubah niat baiknya menjadi niat yang tidak patut untuk dicontoh. Mulai dari tiket ke Papua yang tidak kunjung dikirimkan dan panggilan dari kantor pusat sana yang miss karena saya sedang shift dan tidak menyadari bahwa ada panggilan masuk di handphone saya.

Mulai dari situ semua terasa aneh. Dulu yang sepertinya mudah sekali untuk menulis dan tulisan saya lolos untuk diberikan fee, pada saat itu tulisan saya susah sekali untuk tembus. Padahal waktu itu posisi saya sedang di Surabaya dan hanya memegang uang pas-pasan. Agustus 2015. Dan saya mengutuk diri saya ribuan kali karena entah pergi kemana uang yang telah saya hasilkan sebelumnya, dari perusahaan sebelumnya, dari investasi saham, dari jualan Nu Skin, dari hasi menulis. Ya walaupun setelah dirinci, uangnya ternyata dipakai buat pindahan mendadak, bayar kontrakan, untuk lebaran, dan segala perintilan lainnya dan wajar sisanya tinggal segitu. Saya baru sadari bahwa menghidupi 7 orang kepala, termasuk saya, pendapatan 5 juta/bulan tidaklah cukup. Dan saat itu alhamdulillah biaya kehidupan di Surabaya tidaklah mahal, saya masih bisa bertahan. Dan dengan terpaksa keluarga saya tidak bisa bergantung kepada saya juga, karena saya sendiri dan saat itu gajinya hanya cukup makan sebulan, sambil berharap tulisan saya dibayar dan tiket ke Papua tetap datang. Saya masih rajin menulis dan mengirimkan artikel. Beberapa senior yang telah menjadi karyawan tetap di Papua sana, membantu saya menanyakan bagaimana posisi saya saat itu, kenapa digantung.

Memasuki Oktober, saya mencoba berdamai dengan keadaan. Bahwa segala sesuatunya memang tidak bisa dipaksa. Dan saya juga menjadi dekat dengan seseorang disana. Fahmi Febrian Pradana. Hidup saya menjadi lebih rileks, terasa agak ringan. Ya walaupun wejangan silih datang berganti, berkata bahwa mungkin dia bukan yang terbaik, tapi bagi saya dia yang terbaik pada saat itu. Mungkin saya memang butuh seseorang untuk menyeimbangkan hidup saya. Dia seperti penetralisir racun yang ada di hidup dan pikiran saya. Dia selalu berusaha membuat saya tertawa. Dia seperti kembang api yang memeriahkan kehidupan saya, disaat saya ingin selalu menyendiri di kamar mess pada saat itu.

Setelahnya saya sadar, apa sih yang harus dikejar dari hidup ini jika dirimu sendiri tidak bahagia? Sebelumnya mungkin saya bahagia karena saya menjalani profesi sesuai dengan passion saya, yang setelah terjadinya masalah, passion itu niatnya malah melenceng, yang arahnya menjadi tidak jelas, menjadi niat yang sangat buruk sekali.

Dari Oktober hingga waktu entah sampai kapan saya di Surabaya, saya memutuskan untuk menikmati keberadaan saya disana. Berupaya masa bodoh dengan hal diluar sana. Dan itu berhasil. Berat badan saya naik. Saya jatuh cinta. Rasanya bahagia sekali. Saya juga sudah me-list semua hal yang akan saya lakukan di Palembang, agar semangat positif saya tetap harus dipetahankan. Tetapi ya list itu semua hanya wacana saja.

Mimpi indah tidak berlangsung selamanya. Kembali ke Palembang, berarti saya harus say hello kembali dengan semua masalah. Mungkin cara pandang saya yang salah, menganggap itu semua masalah. Mungkin saya sendiri juga yang membebani pikiran saya dengan solusi-solusi pesimis nan sinis, seakan-akan saya yang harus bertanggung jawab akan semua hal yang terjadi. Saya juga tidak tahu kenapa saya terlalu keras terhadap diri saya sendiri.

Februari-Maret-awal April emosi saya masih bisa terjaga karena banyaknya tugas di kantor yang menjadi tempat refreshing saya dan yah saya rajin curhat dengan orang-orang yang saya percayai. Jujur saja, masalah di kantor itu lebih jauh mudah diatasi ketimbang masalah diluar kantor. Semua selesai tepat pada waktunya. Tidak berlarut-larut. Dan memang saya lebih menyukai hal teknis ketimbang yang berurusan dengan perasaan.

Akhir April saya juga merasa beruntung sekali karena boss di kantor membantu permasalahan saya, dan saya benar-benar merasa bersyukur dan bahagia sekali, beban saya jauh lebih terasa berkurang.

Tetapi saya sudah jarang curhat ke teman-teman, kecuali yang berhubungan dengan pekerjaan dan kalaupun ada yang tidak sesuai, saya selesaikan saat itu juga, karena memang saya lebih suka langsung berhadapan dengan orangnya langsung dan diselesaikan saat itu juga. Karena lingkungan juga sudah mulai terasa aneh. Hanya karena saya terlihat lebih sering pergi dengan B, maka saya dijudge melakukan kongsi dengan B. Tidak mau berpergian dengan yang lain. Jadi melakukan geng-geng kayak geng-nya Cinta di AADC mungkin menurut mereka? Pikiran yang kekanakan sekali. Lah mereka sendiri ketika diajak ada yang gak mau, atau harus sama si C sama D juga, mau naik motor sama R atau T juga, atau seluruh orang di kantor harus ikut. Helloooooooo? Ini sudah di fase umur 20-an yang gak mungkin semua orang satu kelas bisa diajak beramai-ramai setiap hari setiap saat, yang punya waktu yang sama semua.

Jadi satu-satunya orang yang bisa saya curhatin sebebas mungkin tanpa dituding kongsi sana sini (diluar keluarga saya maksudnya), ya hanya kekasih pacar tunangan saya yang jauh di pulau seberang, Fahmi Febrian Pradana, yang menjadi tempat keluh kesah saya. Tetapi karena rindu yang menumpuk, akhir-akhir ini jadinya malah jengkel dan kesal sendiri.

Saya memang memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengan A, B, C, D dan lain-lain lagi, sekadar dekat saja, tetapi itu perasaan yang saya lakukan dari dulu, tapi entahlah kenapa tudingan itu bisa dijugde ke saya. Whateverlah. Tetapi menjadi introvert rasanya aneh. Saya malah sering ngamuk dan loss control sendiri dengan kata-kata. Hingga Mamas pun selalu terkena dampaknya, hahahaha... saya sadar akan hal itu.


Dalam seminggu ini saya berusaha merubah pandangan saya. Bahwa yang saya pikul ini bukan beban. Bahwa semuanya itu juga untuk kebahagiaan saya sendiri. Bahwa saya harus menikmati juga tanpa harus membebani pikiran. Bahwa saya tidak berjuang sendirian. Bahwa saya harus tetap selalu beryukur dengan keadaan saya. Bahwa saya tangguh dan selama saya ikhlas, insyaAllah akan ada hal ajaib yang datang. InsyaAllah. Man shabara zhafirah! Saya rasa sudah saatnya saya membebaskan jiwa saya. Dan salah satunya dengan menulis ini. Ya karena kita tahu, menulis itu menyembuhkan. Dan semoga jiwa saya sembuh dan semangat positif kembali lagi. Please bring out back the old positif soul of Vinta. I miss her so much!

No comments:

Post a Comment

Puja-puji, cercaan atau mau kasih duit? Silahkan =))

Follow Us @viiint