Thursday, 27 April 2017

# Random Thoughts

Haruskah Semua Pencapaian Dinilai Dari Apa Yang Sudah Didapatkan Secara Material?

Akhir-akhir ini saya sering bertanya mengapa ada sebagian orang di dunia yang seakan sangat tahu kehidupan kita dan apa yang yang mereka pikirkan mutlak terjadi pada hidup kita? Sebenarnya hal-hal seperti ini pernah saya alami saat saya kuliah. Contohnya saat saya mendapat dana beasiswa Bidik Misi yang keluar setiap 3 atau 6 bulan sekali. Teman-teman saya yang lain yang mendapat dana beasiswa ini cenderung membeli sesuatu yang baru yang kelihatan di mata, misal HP baru, baju baru, tas baru, dan mungkin laptop baru. Sedangkan saya tidak ada perubahan yang baru sedikitipun dalam penampilan saya dan mungkin itu yang membuat salah satu teman bertanya seperti ini:

“Uangmu kemana sih Vint? Bukannya kemarin dapat Dana Beasiswa? Yang lain itu kelihatan ada perubahannya, lah kamu gak kelihatan sama sekali? Buat foya-foya ya? Hmm harusnya kamu bisa pinter ngatur uang.”

Pertanyaan dan pernyataan itu sangat menohok hati saya. Pertama kali mendengar, saya langsung intropeksi diri, dan juga bertanya dalam hati, iya juga ya uangnya tiba-tiba saja habis, tapi saya gak dapet barang satupun. Ya saya beli beberapa buku, dan itu saja gak nyampe 500 ribu. Akhirnya saya bertanya ke Ibu saya, kok pertanyaan temen saya itu rasanya benar juga, uangnya hilang kemana. Ibu saya senyum saja mendengar curahan hati saya tersebut. Lalu berkata, “Kemarin kan dipake buat bantu bayar hutang sama bayar uang TK-nya Sasha. Buat beli beras dan lain-lain juga. Gak inget?”

“Jangan pikirin apa yang orang omongin, kita itu gak sama dengan keluarga temenmu yang uang beasiswanya bisa dipake beli baju, HP, ataupun laptop. Kita ini miskin dan uangmu dipake untuk kebutuhan keluarga,” jelas Ibu saya. Saya menggangguk. Ya memang uangnya saya serahkan semua ke Ibu saya, saya cuma ambil seperlunya saja untuk keperluan buku ataupun pelatihan yang ingin saya ikuti.

Dan besoknya teman saya itu kembali mengulang pertanyaan dan pernyataan yang sama, dan saya hanya bilang haruskah saya beberkan semua laporan keuangan saya kepada kalian? Memangnya kalian yang ngasih dana itu? Pemerintah yang ngasih dana saja tidak sampai kepo duitnya mau diapakan. Dan saya rasa malah saya on the track banget, uang beasiswa saya gunakan untuk bantu keluarga. Malah yang beli HP atau laptop atau penampilannya jadi wow itu yang patut dipertanyakan, apakah mereka layak diberi beasiswa jika dana yang diberikan dipakai untuk kepentingan seperti itu?

Dan hal tersebut terjadi kembali beberapa minggu silam. Saya sedang gusar menunggu apakah uang dinas akan cair atau tidak karena sudah dua bulan ini belum kunjung cair juga, dan awal Mei ini saya harus melunaskan DP rumah yang saya ingin ambil. Jadi bertanyalah saya kepada atasan saya untuk kepastian tersebut. Dia bertanya dan saya hanya menjawab sekadarnya saja bahwa saya perlu untuk beli rumah yang awal Mei ini sudah jatuh tempo. Setelah itu dia bertanya lagi...
X : “Berarti nanti kamu tinggal di Palembang ya?”
Y : “ Oh gak, saya mau ikut suami saya. Rumah itu untuk orangtua saya.”
X : “Loh orangtuamu kan sudah ada rumah?”

Disini saya diam sejenak. Saya tidak pernah membuat pernyataan atau apapun mengenai kehidupan pribadi saya kecuali kepada orang yang saya sudah sangat akrab dan percayai untuk dijadikan ccurahan hati. (Sok) tahu darimana orang ini sehingga muncul pernyataan orangtua saya sudah punya rumah? (Sok) tau apa dia mengenai saya? Yang akhirnya saya jawab sekenanya saja.

Y : “Ya karena ada beberapa hal, saya mesti membelikan orangtua saya rumah.”

Lalu keesokan harinya, dia pun kembali mendikte soal kehidupan saya, sama seperti salah satu teman saya saat kuliah. “Kamu itu udah kerja selama dua tahun, sudah dapat apa kamu selama ini? Mikirnya jangan senang-senang terus, harus punya pikiran kedepan.” Dan dia mengoceh soal investasi lah, tanah, emas, dan lain-lain dan lain-lain.

Saya kembali intropeksi diri dan tersenyum mendengar itu. Kemana saja uang saya sudah habis selama ini? Pertanyaan itu kembali berputar-putar di otak saya. Pernah juga ada teman yang bilang, itu si A baru kerja 3 bulan udah ambil motor, kamu kok gak keliatan ada apa-apa?


Haruskah semua pencapaian itu dinilai dari apa yang sudah didapatkan secara material? Sekarang saya pura-pura bego saja ketika ditanya seperti itu. Saya tidak punya kewajiban untuk memberi penjelasan kepada semua orang mengenai seperti apa hidup saya dan apa saja pencapaian yang sudah saya dapat untuk membuat orang terkagum-kagum dan untuk bahan pergunjingan sosial.

Kembali saya tekankan keluarga saya itu ekonominya lemah. Bapak saya hanya seorang satpam dengan 4 orang anak, dan alhamdulillahnya 1 anaknya sudah lulus dan diharapkan dapat membantu perekonomian keluarga. Gaji ayah saya cuma 1 juta rupiah dan itu dipotong karena ayah saya punya hutang sehingga sebulan dapatnya sekitar 800 ribu. Anaknya yang sekolah ada 3. Dulu keluarga saya masih numpang hidup di rumah ibu-nya ayah saya, namun sekarang karena ada suatu masalah, kita mengontrak rumah satu tahun sekitar 8 juta. Ibu saya hanya seorang Ibu Rumah Tangga yang alhamdulillahnya di trisemester tahun 2016 menjadi seorang tukang masak disebuah perusahaan konveksi. Dan saya rasa setiap keluarga pasti punya hutang dan kredit yang harus dibayar setiap bulannya. Belum lagi masalah pendidikan anak dan uang sakunya.

Dan tahun 2017 ini saya janji kepada orangtua saya untuk bisa membelikan mereka rumah, di bulan Mei tepatnya. Saya hitung-hitung gaji saya tapi ya itu sangat ketat sekali sepertinya saya harus berhemat. Akhirnya saya putuskan untuk minta ditempatkan di Site lain kepada Bapak Boss Ganteng, karena apa? Karena pasti saya dapat uang dinas di 3 bulan pertama dan saya juga menagih janji yang sudah dijanjikan kepada saya. Karena itu satu-satunya cara untuk membuat pemasukan saya lebih lagi. Untuk resign saya jelas belum berani karena saya mesti dapat penggantinya dulu dan gaji serta kemakmuran harus lebih dari kerja saya disini. Kalo sama aja, buat apa saya resign, benar kan?

Dan dikabulkanlah saya pindah ke Site Boyolali ini, dan orang-orang mikirnya saya pindah kesini karenaaaaaa.... supaya dekat dengan pacar sayaaaaa... Astagaaaaa! Okay, memang lebih dekat, lalu apakah jarak dekat itu lantas buat kami pacaran terus-menerus atau paling tidak satu minggu sekali bertemu? Tidaaaaaaaak.... mesti harus nabung juga sebelum kita ketemu. Dan kalo rumah untuk orang tua saya ini belum terealisasikan artinya pernikahan kita akan semakin ditunda, dan uang yang ingin ditabung buat rumah dan pernikahan akan semakin lama terkumpulnya. See? Jadi apa yang dikira orang gak sama aktualisasinya dengan kehidupan saya sekarang.

Alasan lain selain saya mau dapat uang dinas, supaya saya lebih dekat untuk mengapply perusahaan yang lain. Terdengar licik? Ya biarkanlah. Karena selama di Palembang saat saya berhasil masuk tahap interview, saya akhirnya selalu dicancel karena mereka hanya mencari orang yang domisili Jakarta, Bandung, Yogyakarta, atau Surabaya. Dengan saya berada di Boyolali, akses saya ke Yogyakarta, Bandung ataupun Surabaya jelas lebih dekat dan dapat memangkas biaya yang harus saya keluarkan. Dan karena saya juga harus mesti dapat pengganti kerja ini sebelum saya menikah karena tidak mungkin tanggungan kredit saya jadi harus dilimpahkan ke suami, kecuali gaji suami saya sudah 20 juta keatas.

Ya begitulah hidup. Ada banyak netizen duniawi yang selalu memandang apa yang tampak saja dan dengan percaya dirinya judgmental pikiran mereka itu mutlak memang terjadi pada kehidupan, yang nyatanya sangat berbanding jauh sekali dan harusnya menurut saya mereka lebih mikirin diri mereka sendiri yaa, gak perlu ikut campur urusan orang lain. Kecuali mereka ikut nyumbang kehidupan kita, ngasih 50 juta kek, baru deh boleh bebas mau komentar apapun.

Masih bertanya apa yang sudah saya capai? Saya sedang berusaha mengeluarkan keluarga saya dari kesulitan ekonomi dan memastikan adik-adik saya dapat bersekolah dengan baik sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Itu sama saja dengan membantu pemerintah dalam menuntaskan kemiskinan kan? Saya doakan semoga di Indonesia ini banyak yang juga ingin memakmurkan keluarganya. Mari memulai dari diri sendiri. Bismillah...

Ps: Saya tau uang bukan kebahagiaan hakiki dan bukan segala-galanya. Tapi saat ini saya sedang menyelesaikan semua permasalahan uang itu sendiri, mencapai kestabilan financial, dan baru bisa melakukan hal yang saya inginkan, passion hidup saya, yang tidak berhubungan dengan uang. Saat ini saya hanya ingin keluarga saya hidup nyaman dan damai, baru setelah itu saya rasa saya bisa hidup nyaman dan damai juga dengan kebebasan yang saya idam-idamkan.

No comments:

Post a Comment

Puja-puji, cercaan atau mau kasih duit? Silahkan =))

Follow Us @viiint