“Uangmu kemana sih Vint? Bukannya kemarin dapat Dana
Beasiswa? Yang lain itu kelihatan ada perubahannya, lah kamu gak kelihatan sama
sekali? Buat foya-foya ya? Hmm harusnya kamu bisa pinter ngatur uang.”
Pertanyaan dan pernyataan itu sangat menohok hati saya.
Pertama kali mendengar, saya langsung intropeksi diri, dan juga bertanya dalam
hati, iya juga ya uangnya tiba-tiba saja habis, tapi saya gak dapet barang
satupun. Ya saya beli beberapa buku, dan itu saja gak nyampe 500 ribu. Akhirnya
saya bertanya ke Ibu saya, kok pertanyaan temen saya itu rasanya benar juga,
uangnya hilang kemana. Ibu saya senyum saja mendengar curahan hati saya
tersebut. Lalu berkata, “Kemarin kan dipake buat bantu bayar hutang sama bayar
uang TK-nya Sasha. Buat beli beras dan lain-lain juga. Gak inget?”
“Jangan pikirin apa yang orang omongin, kita itu gak sama
dengan keluarga temenmu yang uang beasiswanya bisa dipake beli baju, HP,
ataupun laptop. Kita ini miskin dan uangmu dipake untuk kebutuhan keluarga,”
jelas Ibu saya. Saya menggangguk. Ya memang uangnya saya serahkan semua ke Ibu
saya, saya cuma ambil seperlunya saja untuk keperluan buku ataupun pelatihan
yang ingin saya ikuti.
Dan besoknya teman saya itu kembali mengulang pertanyaan dan
pernyataan yang sama, dan saya hanya bilang haruskah saya beberkan semua
laporan keuangan saya kepada kalian? Memangnya kalian yang ngasih dana itu?
Pemerintah yang ngasih dana saja tidak sampai kepo duitnya mau diapakan. Dan
saya rasa malah saya on the track banget, uang beasiswa saya gunakan untuk
bantu keluarga. Malah yang beli HP atau laptop atau penampilannya jadi wow itu
yang patut dipertanyakan, apakah mereka layak diberi beasiswa jika dana yang
diberikan dipakai untuk kepentingan seperti itu?
Dan hal tersebut terjadi kembali beberapa minggu silam. Saya
sedang gusar menunggu apakah uang dinas akan cair atau tidak karena sudah dua
bulan ini belum kunjung cair juga, dan awal Mei ini saya harus melunaskan DP
rumah yang saya ingin ambil. Jadi bertanyalah saya kepada atasan saya untuk
kepastian tersebut. Dia bertanya dan saya hanya menjawab sekadarnya saja bahwa
saya perlu untuk beli rumah yang awal Mei ini sudah jatuh tempo. Setelah itu
dia bertanya lagi...
X : “Berarti nanti kamu tinggal di Palembang ya?”
Y : “ Oh gak, saya mau ikut suami saya. Rumah itu untuk
orangtua saya.”
X : “Loh orangtuamu kan sudah ada rumah?”
Disini saya diam sejenak. Saya tidak pernah membuat
pernyataan atau apapun mengenai kehidupan pribadi saya kecuali kepada orang
yang saya sudah sangat akrab dan percayai untuk dijadikan ccurahan hati. (Sok)
tahu darimana orang ini sehingga muncul pernyataan orangtua saya sudah punya rumah?
(Sok) tau apa dia mengenai saya? Yang akhirnya saya jawab sekenanya saja.
Y : “Ya karena ada beberapa hal, saya mesti membelikan
orangtua saya rumah.”
Lalu keesokan harinya, dia pun kembali mendikte soal
kehidupan saya, sama seperti salah satu teman saya saat kuliah. “Kamu itu udah
kerja selama dua tahun, sudah dapat apa kamu selama ini? Mikirnya jangan
senang-senang terus, harus punya pikiran kedepan.” Dan dia mengoceh soal
investasi lah, tanah, emas, dan lain-lain dan lain-lain.
Saya kembali intropeksi diri dan tersenyum mendengar itu.
Kemana saja uang saya sudah habis selama ini? Pertanyaan itu kembali berputar-putar
di otak saya. Pernah juga ada teman yang bilang, itu si A baru kerja 3 bulan
udah ambil motor, kamu kok gak keliatan ada apa-apa?
Haruskah semua pencapaian itu dinilai dari apa yang sudah
didapatkan secara material? Sekarang saya pura-pura bego saja ketika ditanya
seperti itu. Saya tidak punya kewajiban untuk memberi penjelasan kepada semua
orang mengenai seperti apa hidup saya dan apa saja pencapaian yang sudah saya
dapat untuk membuat orang terkagum-kagum dan untuk bahan pergunjingan sosial.
Kembali saya tekankan keluarga saya itu ekonominya lemah.
Bapak saya hanya seorang satpam dengan 4 orang anak, dan alhamdulillahnya 1
anaknya sudah lulus dan diharapkan dapat membantu perekonomian keluarga. Gaji
ayah saya cuma 1 juta rupiah dan itu dipotong karena ayah saya punya hutang
sehingga sebulan dapatnya sekitar 800 ribu. Anaknya yang sekolah ada 3. Dulu
keluarga saya masih numpang hidup di rumah ibu-nya ayah saya, namun sekarang
karena ada suatu masalah, kita mengontrak rumah satu tahun sekitar 8 juta. Ibu
saya hanya seorang Ibu Rumah Tangga yang alhamdulillahnya di trisemester tahun
2016 menjadi seorang tukang masak disebuah perusahaan konveksi. Dan saya rasa
setiap keluarga pasti punya hutang dan kredit yang harus dibayar setiap
bulannya. Belum lagi masalah pendidikan anak dan uang sakunya.
Dan tahun 2017 ini saya janji kepada orangtua saya untuk
bisa membelikan mereka rumah, di bulan Mei tepatnya. Saya hitung-hitung gaji
saya tapi ya itu sangat ketat sekali sepertinya saya harus berhemat. Akhirnya
saya putuskan untuk minta ditempatkan di Site lain kepada Bapak Boss Ganteng,
karena apa? Karena pasti saya dapat uang dinas di 3 bulan pertama dan saya juga
menagih janji yang sudah dijanjikan kepada saya. Karena itu satu-satunya cara
untuk membuat pemasukan saya lebih lagi. Untuk resign saya jelas belum berani
karena saya mesti dapat penggantinya dulu dan gaji serta kemakmuran harus lebih
dari kerja saya disini. Kalo sama aja, buat apa saya resign, benar kan?
Dan dikabulkanlah saya pindah ke Site Boyolali ini, dan
orang-orang mikirnya saya pindah kesini karenaaaaaa.... supaya dekat dengan
pacar sayaaaaa... Astagaaaaa! Okay, memang lebih dekat, lalu apakah jarak dekat
itu lantas buat kami pacaran terus-menerus atau paling tidak satu minggu sekali
bertemu? Tidaaaaaaaak.... mesti harus nabung juga sebelum kita ketemu. Dan kalo
rumah untuk orang tua saya ini belum terealisasikan artinya pernikahan kita
akan semakin ditunda, dan uang yang ingin ditabung buat rumah dan pernikahan
akan semakin lama terkumpulnya. See? Jadi apa yang dikira orang gak sama
aktualisasinya dengan kehidupan saya sekarang.
Alasan lain selain saya mau dapat uang dinas, supaya saya
lebih dekat untuk mengapply perusahaan yang lain. Terdengar licik? Ya
biarkanlah. Karena selama di Palembang saat saya berhasil masuk tahap
interview, saya akhirnya selalu dicancel karena mereka hanya mencari orang yang
domisili Jakarta, Bandung, Yogyakarta, atau Surabaya. Dengan saya berada di
Boyolali, akses saya ke Yogyakarta, Bandung ataupun Surabaya jelas lebih dekat
dan dapat memangkas biaya yang harus saya keluarkan. Dan karena saya juga harus
mesti dapat pengganti kerja ini sebelum saya menikah karena tidak mungkin
tanggungan kredit saya jadi harus dilimpahkan ke suami, kecuali gaji suami saya
sudah 20 juta keatas.
Ya begitulah hidup. Ada banyak netizen duniawi yang selalu
memandang apa yang tampak saja dan dengan percaya dirinya judgmental pikiran
mereka itu mutlak memang terjadi pada kehidupan, yang nyatanya sangat
berbanding jauh sekali dan harusnya menurut saya mereka lebih mikirin diri
mereka sendiri yaa, gak perlu ikut campur urusan orang lain. Kecuali mereka
ikut nyumbang kehidupan kita, ngasih 50 juta kek, baru deh boleh bebas mau
komentar apapun.
Masih bertanya apa yang sudah saya capai? Saya sedang
berusaha mengeluarkan keluarga saya dari kesulitan ekonomi dan memastikan
adik-adik saya dapat bersekolah dengan baik sampai ke jenjang yang lebih
tinggi. Itu sama saja dengan membantu pemerintah dalam menuntaskan kemiskinan
kan? Saya doakan semoga di Indonesia ini banyak yang juga ingin memakmurkan
keluarganya. Mari memulai dari diri sendiri. Bismillah...
Ps: Saya tau uang bukan kebahagiaan hakiki dan bukan
segala-galanya. Tapi saat ini saya sedang menyelesaikan semua permasalahan uang
itu sendiri, mencapai kestabilan financial, dan baru bisa melakukan hal yang
saya inginkan, passion hidup saya, yang tidak berhubungan dengan uang. Saat ini
saya hanya ingin keluarga saya hidup nyaman dan damai, baru setelah itu saya
rasa saya bisa hidup nyaman dan damai juga dengan kebebasan yang saya
idam-idamkan.

No comments:
Post a Comment
Puja-puji, cercaan atau mau kasih duit? Silahkan =))